This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Saturday, April 30, 2011

aqidah

ini adalah calon makalah q jadi mohon masukan bagi yang ahli dalam bidang Tersebut.
Bab I
Pendahuluan
A.    Latar belakang
Indonesia adalah sebuah Negara yang mayoritas penduduknya beragama islam, namun minoritas yang benar-benar islami. Terbukti dari realita yang ada bahwa budaya barat yang keluar dari batas-batas normative ajaran islam justru banyak di adopsi oleh banyak dikalangan remaja maupun dewasa muslim. Apakah mereka tidak menyadari akan adanya sang maha mengetahui? Ataukah tidak meyakini akan datangnya hari pembalasan akan amal? Apakah mereka merasa dunia adalah segalanya? Sungguh patut dibanggakan bila Indonesia masyarakat muslimnya benar-benar islami.
Sebenanrnya ada   masyarakat muslim Indonesia yang benar-benar islami, hal tersebut dikarenakan mereka benar-benar mendalami akan ajaran islam dan mengamalkannya. Tidak satupun ditemukan ajaran dalam islam untuk memusuhi Negara yang mengayominya , melainkan  perintah untuk mematuhinya selama tidak bertentangan dengan ajaran agama. Lantas mengapa hanya sedikit diantara sekian banyak penduduk muslim Indonesia yang seperti mereka, oleh karenanya marilah menata kembali aqidah kita agar tidak bisa diombang ambingkan oleh budaya manapun yang menyimpang dari ajaran islam. Karena aqidah merupakan penghimpun yang mengikat erat antara seluruh kaum mukminin, dan mengarahkan manusia untuk menuju kea rah kemuliaan dan keluhuran dalam kehidupan ini. Pertanyaan berikut akan mengarahkan kita menuju pemahaman kembali akan aqidah yang sebenarnya sesuai tuntunan Rasul.
B.     Rumusan masalah
1.      Apa pengertian aqidah ?
2.      Bagaimanakah tuntunan rasul dalam beraqidah ?
C.     Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui :
1.      Pengertian aqidah.
2.      Tuntunan rasul dalam beraqidah.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Aqidah
Dalam studi apapun akan lebih mengena bila sudah benar-benar mamahami makna dari apa yang akan dipelajari, misal mempelajari ushul fiqih, maka sudah mengerti apa maksud dari ushul fiqih tersebut, begitu pula dengan pembahasan ini, kami akan memulainya dengan mengupas makna yang terkandung dalam kata ‘Aqidah.
‘Aqidah secara etimologi merupakan akar kata dari ‘aqidatan jamaknya adalah ‘aqaid yang bermakna keyakinan[1]. Sedangkan ‘aqidah secara terminology ‘ adalah ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Namun bila dikaitkan dengan islam yang lazimnya disebut dengan aqidah islamiyah maka pengertian  aqidah tersebut  adalah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah dengan semua pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.
Sebagai perbandingan marilah kita simak pendapat para ahli tentang maksud yang terkandung dari kata ‘Aqidah.
Menurut Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari Pengertian Aqidah Secara Bahasa (Etimologi) :Kata "‘aqidah" diambil dari kata dasar "al-‘aqdu" yaitu ar-rabth(ikatan), al-Ibraam (pengesahan), al-ihkam(penguatan), at-tawatstsuq(menjadi kokoh, kuat), asy-syaddu biquwwah(pengikatan dengan kuat), at-tamaasuk(pengokohan) dan al-itsbaatu(penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin(keyakinan) dan al-jazmu (penetapan),  Pengertian Aqidah Secara Istilah (Terminologi) Yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidka tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan. Dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun pada orang yang menyakininya. Dan harus sesuai dengan kenyataannya; yang tidak menerima keraguan atau prasangka. Jika hal tersebut tidak sampai pada singkat keyakinan yang kokoh, maka tidak dinamakan aqidah. Dinamakan aqidah, karena orang itu mengikat hatinya diatas hal tersebut.[2]
Sementara  M Hasbi Ash Shiddiqi mengatakan aqidah menurut ketentuan bahasa (bahasa arab) ialah sesuatu yang dipegang teguh dan terhunjam kuat di dalam lubuk jiwa dan tak dapat beralih dari padanya.
Adapun aqidah menurut Syaikh Mahmoud Syaltout adalah segi teoritis yang dituntut pertama-tama dan terdahulu dari segala sesuatu untuk dipercayai dengan suatu keimanan yang tidak boleh dicampuri oleh syakwasangka dan tidak dipengaruhi oleh keragu-raguan.
Aqidah atau keyakinan adalah suatu nilai yang paling asasi dan prinsipil bagi manusia, sama halnya dengan nilai dirinya sendiri, bahkan melebihinya.
Sedangkan Syekh Hasan Al-Bannah menyatakan aqidah sebagai sesuatu yang seharusnya hati membenarkannya sehingga menjadi ketenangan jiwa, yang menjadikan kepercayaan bersih dari kebimbangan dan keragu-raguan.[3]
B.     Tuntunan rasul dalam beraqidah.
Di awal masa kenabian (dakwah tertutup) serta  di masa selanjutnya (dakwah terbuka atau terang-terangan), Nabi Muhammad SAW selalu menyerukan kepada masyarakat sekitar agar hanya menyembah Allah, mengimani bahwa beliau adalah utusannya, iman kepada malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, iman pada hari kiamat, serta iman kepada takdir-Nya. Yang mana semua itu merupakan Aqidah islamiyah yang harus benar-benar di kokohkan dalam hati. 
 Sebagaiman fakta sejarah ketika Abu bakar datang menemuinya dikarenakan dorongan rasa ingin tahunya akan kepastian berita yang dikabarkan oleh para tetangganya “ Wahai Muhammad ! Benarkah apa yang dikatakan oleh orang-orang Quraisy bahwa engkau telah meninggalkan Tuhan-Tuhan mereka. Mengang gap bodoh mereka dan mengkufurkan bapak-bapak mereka?” serunya kepada nabi Muhammad SAW.  “ Benar. Aku adalah utusan Allah dan Nabinya. Allah telah mengutusku untuk menyampaikan risalahnya. Kini aku mengajakmu untuk menyembah Allah yang hak. Demi Allah, sungguh Dialah dzat yang hak wujudnya. Tuha yang maha esa, tiada pernah ada sekutu bagi-Nya.” Jawab Rasulullah dengan tegas bersemangat.[4]
Beliau dalam sabdanya menerangkan tentang islam dan iman yang merupakan Aqidah pokok yang harus diamini oleh orang yang mengikuti ajarannya.
عن عمربن الخطاب قال بينما نحن عند رسول الله صلى الله علبه و سلم ذَاتَ  بَوْمٍ  إِذْطَلَعَ  عَلَبْناَ رَجُلٌ شَدِيْدٌ
 بَياَضِ الثِّياَبِ شَدِيْدُ سَوَادِالشَّعَر ِلاَ  يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُالسَّفَر ِوَلاَيَعْرِفُهُ مِنّاَ  أَحَدٌحَتَّى جَلَسَ  إِلَى النَّبِيِّ صلّى الله
 علبه و سلّم فَأَسْنَدُ رٌكْبَتَيْهِ  إِلَى رٌكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَـفَّيْهِ عَلَى فَخِذَ يْهِ وَقَالَ  يَا مُحَمَّدُ أََخْبِرْنِى عَنِ الاِسْلاَمِ فَقاَلَ
 رَسول الله صلّى الله علبه و سلم اَلاِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ اَنْ لاَاِله الاّالله وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسولُ الله وتُقِيْمَ الصَّلاَةَ
 وَتــُؤْتِيَ الزّكاَةَ و تصومَ رمضان وتحجَّ البيتَ إن استطاعَ إليه سبيْلاً قَال صَدَقْتَ قَال فَعَجِبْناَلَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَال فأََخْبِرْنِى عن الايمان قال أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الاخر وتؤمن بالقدرخيره وشره....(رواه مسلم)
            Dari ‘umar bin khattab ra berkata:”Tatkala kami duduk disisi Rasulullah SAW tiba-tiba datang seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih berambut sangat hitam, tak kelihatan padanya bekas perjalanan jauh dan tak seorangpun diantara kami yang telah mengenalnya. Orang itu terus duduk dihadapan Rasulullah SAW seraya mendampingkan lututnya kelutut Rasulullah SAW dan meletakkan kedua telapak tangannya diatas dua paha nabi, seraya berkata “ Hai Muhammad! Terangka kepada saya tentang islam” Rasul menjawab: Islam itu ialah mengucapkan dua kalimat sahadat mendirika sembahyang mengeluarkan zakat, berpuasa bulan ramadhan, dan mengerjakan haji jika kuasa.”Benar katamu” jawab orang itu. Kata ‘Umar, kamipun heran, betapa ia bertanya dan dia sendiri yang membenarkannya. Orang itu bertanya pula tentang keimanan. Rasul menjawab: Iman itu ialah percaya kepada allah swt, malaikatnya, kitab-kitabnya, rasul-rasulnya, hari kiamat, danketentuan baik atau buruk iru adalah keputusan allah.”Benar katamu” Jawab Orang itu..(H.R Muslim)[5]
Dari hadits di atas dapat kita garis bawahi bahwa Aqidah islamiyyah terdiri atas beberapa bagian, oleh karenanya kami akan membahasnya secara terperinci.
            Adapun bagian-bagian dari aqidah islamiyah tersebut adalah:
1.      Beriman kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan apa dan siapapun
Hal tersebut ditegaskan dari hadits Rasulullah SAW tatkala ditanya oleh salah seorang sahabatnya:
عن ابي عمر ووقيل ابي عمرةسفيان بن عبدالله رضي الله عنه قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ   [رواه مسلم]
Abu Amr (versi lain menyebutnya abu ‘amrah sufyan bin Abdullah Ra)berkataWahai Rasulullah, katakan kepada saya tentang Islam sebuah perkataan yang  tidak  saya tanyakan kepada seorangpun selainmu”. Beliau bersabda: Katakanlah: saya beriman kepada Allah, kemudian berpegang teguhlah .         (HR: Muslim)[6].
Rasul menyuruh umatnya untuk mengarahkan pandangan mereka ke kerajaan langit dan bumi, digerakanlah akal fikiran mereka untuk memikirkan tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Fitrahnya di bangunkan agar jiwanya dapat menerima tanaman dengan perasaan yang teguh dalam beragama.[7]
Terkait dengan penjelasan diatas berikut hadits rasul tentang keutamaan orang yang beriman kepada Allah SWt:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ وَكِيعٌ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و قَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ وَقُلْتُ أَنَا وَمَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ  [رواه مسلم]
Hadis riwayat Abdullah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk neraka. Dan aku (Abdullah) sendiri berkata: Siapa yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, niscaya ia masuk surga.
(HR: Muslim)[8]
Mengapa orang yang meninggal dalam keadaan musyrik itu tanpa basa basi langsung masuk neraka, karena dosa syirik merupakan dosa yang paling besar, sebagaimana sabda Rasul:
Hadis riwayat Abdurrahman bin Abu Bakrah ra., ia berkata:
Kami sedang berada di dekat Rasulullah saw. ketika beliau bersabda: Tidak inginkah kalian kuberitahu tentang dosa-dosa besar yang paling besar? (beliau mengulangi pertanyaan itu tiga kali) yaitu; menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua dan persaksian palsu. Semula Rasulullah saw. bersandar, lalu duduk. Beliau terus mengulangi sabdanya itu, sehingga kami membatin: Mudah-mudahan beliau diam. (Shahih Muslim No.126)[9] .
Kami yakin dengan aqidah islam yang pertama tersebut bisa memancarkan berbagai perasaan yang baik dan dapat dibina diatasnya semangat untuk menuju kearah perbaikan serta menjadikan hati senantiasa waspada pada hal yang salah dan tercela, bahkan dapat menumbuhkan kemauan untuk mencari keluhuran kemuliaan dan ketinggian budi dan akhak dan sebaliknya juga menyuruh seseorang supaya menghindarkan dirinya dari amal perbutan yang hina, rendah dan tidak berharga sedikitpun.
2.      Beriman kepada malaikat
Beriman kepada malaikat merupakan aqidah yang juga harus di kokohkan dalam hati, karena dengan mengimaninya kita bisa lebih bijaksana dalam melaksanakan perihal apapun, selain itu juga bisa menjadikannya sebagai contoh dalam berperilaku, karena perilaku mreka yang serba baik dan terpuji itu, tidak pernah lalai dalam menjalankan perintah Allah Swt.
Berikut merupakan sifat-sifat malaikat:
والملك الذى يلا ابى وام ..............لا اكل لا شرب ولا نوم

Malaikat tidak memiliki ayah dan ibu, mereka juga tidak makan dan minum[10],melainkan hanya ta’at melakukan apa yang di perintahkan Allah padanya.
3.      Beriman kepada kitab-kitab Allah Swt
Dengan beriman kepada kitab-kitab-Nya berarti kita siap mengamalkan hal-hal yang terkandung di dalamnya sesuai petunjuk rasul karena yang demikian itu yang memberikan arah pada kita untuk menempuh jalan yang lurus, bijaksana dan diridhai oleh Allah Swt .
Di era sekarang ini sepertinya kita sangat kesulitan untuk mengetahui kitab lain selain Al-Qur’an, oleh karenanya minimal kita benar-benar mengimani Al-qur’an dengan bukti kita mengamalkan hal yang terkandung di dalamnya sesuai petunjuk rasul, niscaya kita akan mendapat rido-Nya.
Sebagaimaa hadits rasulullah Saw[11]:
Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur'an) dan sunnah Rasulullah Saw. (HR. Muslim)
Sesungguhnya Allah, dengan kitab ini (Al Qur'an) meninggikan derajat kaum-kaum dan menjatuhkan derajat kaum yang lain. (HR. Muslim)
Orang yang pandai membaca Al Qur'an akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti, dan yang membaca tetapi sulit dan terbata-bata maka dia mendapat dua pahala. (HR. Bukhari dan Muslim)
Sebaik-baik kamu ialah yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)


4.      Beriman kepada rasul-rasul Allah
Sebagai orang yang beragama  mengimani rasul adalah hal rimer, karena bagaimanapun juga segala sesuatu yang berkaitan dengan agama pasti melalui penjelasan rasul terlebih dahulu, dan hal yang sangat menggelitik bila seseorang meyakini suatu agama namun tidak mangimani rasul penyampai risalah tersebut. Dengan mengimaninya kita bisa  mengikuti jejak langkahnya, memperhias diri dengan meniru akhlak-akhlaknya. Selain itu bersabar dan tabah hati dalam mencontoh sepak terjangnya, sebab tindak langkahnya mencerminkan suatu teladan yang tinggi nilainya dan sangat  bermutu, bahkan itulah yang merupakan kehidupan suci dan bersih yang dikehendaki oleh allah swt agar dimilik oleh seluruh umat manusia.
عن انس قال قال النبيّ صلى الله عليه وسلّم: لا يؤمن احدكم حتى اكون أحبّ اليه من والده وولده والناس اجمعين( أخرجاه)
Anas RA berkata :"Nabi SA bersabda,'salah seorang diantaramu tidak beriman sehingga saya lebih di cintai olehnya dari pada orang tuanya, anaknya dan semua manusia."')HR:Bukhari dan muslim)[12]
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ (رواه البخارى)
                        Dari Abu hurairah Ra bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Demi dzat yang jiwaku berada dalam genggamannya (kekuasaan-Nya), salah seorang diantaramu tidak beriman sehingga saya lebih dicintai olehnya daripada orang tua dan anaknya”.(HR. Bukhari)[13]            
5.      Beriman kapada hari akhir
Adanya perilaku yang menyimpang dari garis haluan agama tidak lain dimotori oleh kurang bahkan tidak adanya keyakinan akan hari akhir. Hari dimana seseorang harus mempertanggungjawabkan semua amal ketika mampir di dunia. Oleh karenanya mengimaninya merupaka factor yang bisa membangkitkan kembali fitrahnya untuk tidak melakukan hal-hal yang menyimpang dari syari’at islam.
 Seluruh makhluk akan di bangkitkan dari kubur dan dikumpulkan di makhsyar. ‘Al-ba’ts ialah menghidupkan orang-orang yang telah mati dan mengeluarkan mereka dari kuburnya, sementara ‘al-hasyr’ adalah menggiring seluruh makhluk menuju suatu tempat untuk di hisab, tempat itu adalah makhsyar.[14]
Berikut hadits-hadits rasul[15] mengenai hari akhir:
Kamu akan dibangkitkan pada hari kiamat tanpa sandal, telanjang bulat dan tidak dikhitan. Aisyah bertanya, "Ya Rasulullah, laki-laki dan perempuan saling melihat (aurat) yang lain?" Nabi Saw menjawab, "Pada saat itu segala urusan sangat dahsyat sehingga orang tidak memperhatikan (mengindahkan) hal itu." (Mutafaq'alaih)
 
Didatangkan kebaikan-kebaikan (pahala) dan kejahatan-kejahatan (dosa) seorang hamba, lalu saling mengikis dan bila masih tersisa kebaikan (pahala) itu Allah akan melapangkannya untuk masuk surga. (HR. Bukhari)

Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari kiamat akan ditanya tentang lima perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; (2) Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya; (3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia peroleh dan (4) dalam hal apa dia membelanjakannya; (5) dan tentang ilmunya, mana yang dia amalkan. (HR. Ahmad)

           Amal seseorang tidak dapat menyelamatkannya. Seorang sahabat lantas bertanya tentang sabda tersebut, "Termasuk engkau juga, ya Rasulullah?" Rasulullah lalu menjawab, "Ya, aku juga, kecuali dikarunia Allah dengan rahmat-Nya. Walaupun demikian kamu harus berbuat yang benar (baik)." (HR. Bukhari dan Muslim)
 
Yang pertama diadili antara manusia pada hari kiamat ialah kasus pembunuhan. (HR. Muslim).

6.      Beriman kepada Takdir Tuhan
Takdir  memang sudah di tentukan oleh Allah Swt, namun kita wajib berusaha mendapatkan apa yang telah ditakdirka tuhan kepada kita. Misalnya kita ditakdirkan menjadi orang yang kaya namun kecil harapan benar-benar menjadi orang kaya bila tidak berusaha dan berdo’a.
Terkait masalah takdir Rasulullah Saw bersabda:


Zaid bin tsabit berkata : Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda:” Bila Allah Swt menyiksa penghuni langit dan bumi maka Ia tidak dzolim terhadap mereka, bila Allah mengasihi mereka maka rahmat-Nya lebih baik dari amal mereka, jika kamu memiliki emas sebesar gunung uhud atau semisal dengannya  kemudian kamu menginfaqkan di jalan allah maka allah rtidak menerimanya sehingga kamu beriman pada semua qodar. Maka kamu tahu bahwa sesuatu yang terjadi padamu itu tidak menjadikan mu salah,dan suatu kesalahan tidak akan terjadi padamu,dan sesungguhnya bila kamu mati dalm keadan tidak beriman maka kamu masuk neraka.[16]
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ الْهَمْدَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي وَأَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ قَالُوا
 حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ
 أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً
 مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
            (رواه مسلم)
Hadis riwayat Abdullah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (HR:Muslim)[17]
            Hal-hal sebagaimana diatas itu tampak dengan jelas bahwa aqidah itu tujuan utamanya memberi didikan yang baik dalam menempuh jalan kehidupan menyucikan jiwa lalu mengarahkannya kejurusan yang tertentu untuk mencapai puncak dari sifat-sifat yang tinggi dan luhur dan lebih utama lagi supaya diusahakan agar sampai tingkatan ma’rifat yang tertinggi dan mendapat ridho Allah Swt.
Jadi teranglah bahwa penanaman aqidah atau kepercayaan dalam hati dan jiwa itu adalah setepat-tepatnya jalan yang wajib dilalui untuk menimbulkan unsure-unsur kebaikan yang dengan bersendikan itu akan terciptalah kesempurnaan kehidupan, bahkan akan memberikan saham yang paling banyak untuk membekali jiwa seseorang dengan sesuatu yang lebih bermanfaat dan lebih sesuai dengan petunjuk tuhan.



























BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN

1.      Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah dengan semua pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.
2.      Rasul selalu menyeru dan mengingatkan kepada kita akan aqidah yang harus benar-benar dikokohkan dalam hati yakni hanya menyembah Allah, mengimani bahwa beliau adalah utusannya, iman kepada malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, iman pada hari kiamat, serta iman kepada takdir-Nya. Hal tersebut di dukung oleh adanya beberapa hadits beliau yang terkait dengan aqidah islamiyah.
B.     Saran
Materi dalam karya kami masih sangat sedikit nuansa haditsnya, sehingga untuk pembahas materi kuliah ini kedepannya diharapkan bisa menjadikan hadits yang memenuhi setiap pembahasannya, terimakasih.











DAFTARPUSTAKA

Kamus Al-Munawir
Sunan ibnu majah, juz satu

Kitab Aqidah al-awam

kitab Arba’in Nawawi
Maktabah Syamilah
Haris, Muhammad dkk, sejarah kehidupan Nabi lentera kegelapan untuk mengenal pendidik sejati manusiA,kediri: Pustaka Gerbang Lama, 2010

Ahmad razak, dan rais lathief, Terjemahan Hadits shahih Muslim,Jakarta:Pustaka Al-husna, cetakan ke III
Al-ali, Mustafa, Bersihkan tauhid anda dari noda syirik, Surabaya: Pt. Bina Ilmu, 1978
Yasin, As’ad, Terjemah mukhtashar shahih imam al-bukhari, Jakarta:Gema Insani, 2007

Misbah, Mengenal dan memahami Aqidah ahlussunah wal jama’ah, Kediri: Mitra pesantren, 2010
http://lesehan-muslim.forumotion.com/t4-definisi-aqidah
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2108596-pengertian-aqidah/




[1] Munawir, Warson,  Kamus Al-munawir, (Yogyakarta: Pustaka progresif, cetakan ke XXV, 2002), hal. 954
[2]http://lesehan-muslim.forumotion.com/t4-definisi-aqidah
[3] http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2108596-pengertian-aqidah/


[4] Haris, Muhammad dkk, sejarah kehidupan Nabi lentera kegelapan untuk mengenal pendidik sejati manusia, (kediri: Pustaka Gerbang Lama, 2010), hal. 113
[5] Ahmad razak, dan rais lathief, Terjemahan Hadits shahih Muslim,(Jakarta:Pustaka Al-husna, cetakan ke III), hal. 37.
[6]An-nawawi, Al-arba’in al-nawawi, hal. 65

[7] Sabiq, sayid, Aqidah Islam Pola Hidup Manusia Beriman, diterjemahkan oleh Rathomi, Abday (Bandung: Cv Diponegoro, cetakan XII), Hal 30
[8] Hadits tersebut diriwayatkan oleh muslim dari Muhammad bin Abdullah bin numair dari ayahnya dan waki’ dari a’masy dari syaqiq. Lihat maktabah syamilah,shaih muslim(bab iman) jilid 1, hadits ke 143, hal. 251.
[9] Hadits web, kumpulan dan referensi belajar hadits.
[10] Marzuqi, ahmad, Aqidah al-awm, (Surabaya:Al-hidayah), hal.15
[11] Hadits web, 1100 hadits terpilih, ketinggian al-qur’an, Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath - Gema Insani Press

[12] Al-ali, Mustafa, Bersihkan tauhid anda dari noda syirik, (Surabaya: Pt. Bina Ilmu, 1978), hal. Hadits tersebut diriwayatkan oleh muslim Dari zuhair bin harb dari ismail bin ulayyah dari syaiban bin abi syaibah dari ‘abdul warits dari abul aziz dari anas. Lihat Al-syamilah, muslim bab imahadits ke 161
[13]  Hadits diatas diriwayatkan oleh Bukhari dari Abul yaman dari Syu’aib dari Abu zinad dari a’roj dari Abu hurairah ra. Lihat Yasin, As’ad, Terjemah mukhtashar shahih imam al-bukhari, (Jakarta:Gema Insani, 2007), hal. 26
[14] Misbah, Mengenal dan memahami Aqidah ahlussunah wal jama’ah, (Kediri: Mitra pesantren, 2010), hal. 112
[15] Hadits-hadits tersebut dapat di lihat di hadits web, 1100 hadits terpilih, hari kiamat dan hisab.
[16] Sunan ibnu majah, juz satu, hal. 41
[17] Al-syamilah, shahih muslim, takdir, hadits ke-4781

Saturday, April 16, 2011

belajar

belajar, belajar, dan belajar. Bila kita mendengar hal itu, tentunya hal yang terbesit dalam hati adalah membaca, menulis, mendengarkan ceramah. Bener g' ? Tapi mari kita tinjau ulang tentang pengertian kita selama ini. Apakah memang benar demikan makna yang terkandung dari kata belajar. Jika kita melihat gejala alam, hal tersebut merupakan belajar bukan ya ? jika kita tiba-tiba diputus ma pacar, kalo kita dipukul orang, dicaci maki orang, di mohon bantuan oleh orang lain, apakah semua itu termasuk bagian dari belajar ? atau bukan sama sekali ? sebenarnya ini adalah hal yang remeh namun bila kita mengkajinya lebih dalam,woooow maknanya sangat luas lhoooo. Mari kita bahas masing-masing dari permasalahan diatas. Alam yang biasanya selalu tersenyum tatkala kita berpapasan dengannya kapan saja, mulai bersatunya roh dengan jasad setelah semalaman bercerai akibat fitnah ngantuk yang disebabkan oleh rasa skit hati sang mata, sampai kita tidyur lagi. Namun ketika kita menemuinya cemberut, karena dah keriput dan sering batuk-batuk (misalnya tanah longsor, hujan yang tak menentu, nih yang paling ngeri tsunami kaya di jepang tuh). Apa yang harus kita lakukan? siapa yang harus kita salahkan ? Apakah Tuhan tidak adil, karena tidak memberi tahu alasan yang konkrit tentang sebab kejadian tersebut ? Hai kawan tatkala kita mendengar orang berkata Ini ulah tangan manusia yang dzalim! apakah kita setuju dengan ungkapan tersebut ? tentunya kita bisa mengambil kesimpulan berarti melihat gejala alam merupakan proses belajar juga. Waduh dah sore nih nanti kalo ada kesempatan lagi akan kusambung pembahasan ini dengan bukti-bukti yang konkrit.